Kampus 3 Faperta Universitas Andalas
Kampus 3 Faperta Universitas Andalas
AGAM - Universitas Andalas berkolaborasi dengan Politeknik Negeri Padang melaksanakan Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) dengan tema "Penguatan Kapasitas Kelembagaan Masyarakat Adat dalam Pengelolaan Hutan Nagari untuk Mitigasi Bencana di Koto Malintang".
Program ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun Anggaran 2026 sebagai wujud implementasi tridarma perguruan tinggi dalam mendukung pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan berbasis masyarakat.
Kegiatan yang diselenggarakan di Nagari Koto Malintang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam ini diikuti oleh sekitar 40 peserta yang terdiri atas unsur pemerintah daerah, pemerintah nagari, tokoh masyarakat adat, Kelompok Tani Hutan (KTH) GILA Aren, PT PLN Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Bukittinggi serta akademisi dari Universitas Andalas dan Politeknik Negeri Padang.
Program ini bertujuan memperkuat kapasitas kelembagaan masyarakat adat dalam mengelola Hutan Nagari secara lestari sekaligus membuka peluang pemanfaatan ekonomi karbon sebagai insentif konservasi hutan.
Kegiatan dibuka dengan sambutan dari perwakilan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Agam, Didik Heksa Cahya Nugraha, S.Pt., selaku Kepala Bidang Pengawasan dan Pengendalian Lingkungan.
Sambutan dilanjutkan oleh perwakilan Camat Tanjung Raya, Yelfida, A.Md.Kes., selaku Kasi Kesejahteraan Sosial dan Ekonomi, serta Wali Nagari Koto Malintang, Hendra Yanto.
Dalam sambutannya, para pemangku kepentingan menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat dalam menjaga kelestarian Hutan Nagari sebagai upaya mitigasi bencana sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Sesi diskusi menghadirkan tiga narasumber dari Universitas Andalas dan Politeknik Negeri Padang. Salah satu pemateri, Muhammad Parikesit Wisnubroto, S.P., M.Sc. dari Universitas Andalas, menyampaikan materi mengenai pengantar karbon dan pengenalan vegetasi sebagai bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim.
Lima Puluh Kota-Guna meningkatkan potensi ekonomi dan wisata lokal, Unand menggulirkan skema program kemitraan masyarakat membantu nagari membangun (PKM-MNM) budidaya pohon enau dan industri gula aren.
Program ini fokus pada pengembangan budidaya pohon enau (Arenga pinnata) dan industri pengolahan gula aren salah satu daya tarik utama wisatawan, serta sumber ekonomi berkelanjutan masyarakat setempat.
Program ini dipusatkan di Nagari Talang Anau salah satu desa wisata yang memiliki potensi besar, terutama dari sektor pertanian dan kerajinan lokal.
Nagari ini memiliki keunggulan dalam pengembangan komoditas pertanian, salah satunya pohon enau yang telah lama dibudidayakan masyarakat. Pohon enau dikenal penghasil bahan baku gula aren, salah satu produk lokal yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
"Program ini mencakup pelatihan terkait teknik pengolahan nira menjadi gula aren berkualitas tinggi. Mulai, proses penyadapan nira, pemurnian, hingga teknik pengemasan yang memenuhi standar pasar. Dengan peningkatan kualitas produk, diharapkan gula aren dari Nagari Talanganau dapat bersaing di pasar lebih luas, baik nasional maupun internasional," ujar Ketua Tim Unand Muhammad Parikesit Wisnubroto SP MSc dengan narasumber Prof Aswaldi Anwar (dosen Fakultas Pertanian).
Tim dosen yang terlibat meliputi Ilham Havifi MIKom, dan Lusi Puspika Sari SIP MIP dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Muhammad Iqbal Abdi Lubis STP MP dari Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, serta Dr Kiki Yulianto STP MP dari Departemen Teknik Industri Pertanian. Turut didukung tim mahasiswa terdiri atas Oktavia Rivandi, Muhammad Adib, Reihan Silvadriyanto, dan M Aqif Rafiuddin.
Prof Aswaldi Anwar memaparkan cara pengelolaan pohon enau mulai pembibitan awal, hingga menjadi gula aren. Dr Kiki Yulianto menjelaskan potensi besar Nagari Talanganau dalam mendirikan industri gula aren.
Beliau juga menyampaikan pentingnya peran Badan Usaha Milik Nagari (BUMNag) guna mendukung program ini. Tim juga mengunjungi rumah Idel, 45, petani anau, kebetulan beliau sedang memproses air niro menjadi gula aren lewat proses tradisional.
“Air ini saya ambil sendiri pada pagi dan sore hari dan diolah sendiri dirumah saya sampai menjadi gula aren,” ujar Idel.
Tim terlibat melakukan diskusi bersama masyarakat. Diawali pemaparan peran pascapanen pada produk turunan nira enau yang disampaikan Muhammad Iqbal Abdi Lubis STP MP (dosen Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem (TPB) dan diakhiri sesi diskusi bersama petani.
"Lingkup pascapanen yang menjadi concern pembahasan adalah penerapan packaging untuk memperpanjang umur simpan, mempertahankan mutu, hingga meningkatkan nilai jual dari gula enau," jelas dia.
Dia juga mengungkapkan bahwa sinergitas BUMNag dan Tim Unand untuk membantu merealisasikan segala proses pascapanen. Sedangkan Ilham Havifi MIKom memaparkan soal branding produk dari Nagari Talanganau.
Meliputi, branding produk, strategi pemasaran, dan pengembangan daya jual produk. Materi ini menekankan pentingnya membangun identitas unik untuk produk gula aren Nagari Talanganau
Sebagai bentuk dukungan langsung, tim pengabdian memberikan bibit pohon enau dan pupuk kepada masyarakat. Parikesit menjelaskan secara detail teknik penanaman bibit enau yang telah diberikan.
Lewat pelatihan dan bantuan bibit, serta pupuk ini, diharapkan masyarakat dapat segera merealisasikan program budidaya pohon enau. Unand berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan industri gula aren di Nagari Talanganau.
Program ini diharapkan dapat meningkatkan potensi ekonomi dan wisata lokal, serta mendorong pengembangan industri gula aren berkelanjutan. (r)
Dharmasraya – Kabar membanggakan datang dari Departemen Budidaya Tanaman Perkebunan, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas. Dua dosen berhasil memperoleh pendanaan melalui program Hibah Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun 2026.
Kedua dosen tersebut adalah Diana Putri, M.Si., penerima pendanaan Penelitian Dosen Pemula, dan Muhammad Parikesit Wisnubroto, S.P., M.Sc., penerima pendanaan Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat. Pencapaian ini menjadi kebanggaan bagi keluarga besar Departemen Budidaya Tanaman Perkebunan sekaligus bukti komitmen dosen dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan menghadirkan solusi bagi masyarakat.
Pendanaan kedua program tersebut memperlihatkan bahwa peran dosen di perguruan tinggi tidak hanya terbatas pada kegiatan pembelajaran di kelas. Dosen juga memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan penelitian yang relevan, menghasilkan inovasi, dan membangun kemitraan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Bagi mahasiswa, pencapaian ini menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana ilmu pengetahuan dapat diterapkan dalam menjawab persoalan di lapangan. Penelitian tentang bakteri endofit menunjukkan pentingnya eksplorasi potensi hayati lokal, sedangkan program pemberdayaan masyarakat memperlihatkan bahwa keberlanjutan lingkungan juga membutuhkan kelembagaan yang kuat dan partisipasi masyarakat.
Kedua kegiatan tersebut sejalan dengan semangat pembangunan pertanian berkelanjutan, yang mengintegrasikan pengembangan teknologi, pelestarian lingkungan, dan peningkatan kapasitas masyarakat. Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan penelitian dan pengabdian serupa juga dapat menjadi sarana untuk mengasah kemampuan berpikir kritis, keterampilan ilmiah, serta kepekaan terhadap kebutuhan masyarakat.
Departemen Budidaya Tanaman Perkebunan, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas, menyampaikan selamat dan sukses kepada Diana Putri, M.Si. dan Muhammad Parikesit Wisnubroto, S.P., M.Sc. atas keberhasilan memperoleh pendanaan Hibah Penelitian dan PKM BIMA Kemdiktisaintek Tahun 2026.
Semoga pencapaian ini menjadi motivasi untuk terus menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas, mengembangkan inovasi di bidang pertanian dan perkebunan, serta memperluas kontribusi bagi masyarakat dan lingkungan.
Selamat berkarya dan terus berdampak! Dari kampus, untuk kemajuan ilmu pengetahuan, masyarakat, dan pertanian Indonesia.