Print this page

Mahasiswa Kampus 3 Peduli Lingkungan, Bagikan Masker Gratis kepada Masyarakat Terdampak Kabut Asap di Dharmasraya

Dharmasraya — Kepedulian terhadap kesehatan masyarakat ditunjukkan oleh mahasiswa kampus 3 UNAND melalui kegiatan pembagian masker gratis kepada warga yang terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk aksi nyata mahasiswa dalam membantu masyarakat sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan dan lingkungan.

Dalam kegiatan tersebut, pada tanggal 23 Oktober 2026, mahasiswa kampus 3 UNAND membagikan masker kepada masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan, terutama pengguna jalan yang berisiko terpapar asap. Melalui kegiatan ini, mahasiswa berharap masker yang diberikan dapat membantu mengurangi paparan partikel asap serta mengingatkan masyarakat agar lebih memperhatikan kesehatan selama kondisi udara memburuk.

Bagi mahasiswa, kegiatan ini bukan sekadar membagikan masker, tetapi juga menjadi bentuk kepedulian sosial terhadap masyarakat yang merasakan langsung dampak kebakaran hutan dan lahan. Mahasiswa sebagai bagian dari generasi muda memiliki peran penting dalam membantu masyarakat, menyampaikan informasi, dan mengajak semua pihak untuk lebih peduli terhadap lingkungan.

Kabut asap bukan sekadar gangguan, tetapi juga ancaman kesehatan

Kebakaran hutan dan lahan dapat menimbulkan kabut asap yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Asap mengandung partikel halus dan berbagai zat pencemar yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Paparan asap dapat menyebabkan batuk, iritasi mata, sesak napas, serta memperburuk kondisi orang yang memiliki gangguan pernapasan.

Oleh karena itu, masyarakat perlu mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika asap cukup pekat. Jika harus beraktivitas di luar rumah, penggunaan masker yang sesuai, seperti respirator KN95 atau N95, dapat membantu mengurangi paparan partikel halus. Masyarakat juga perlu memperhatikan informasi kualitas udara dan mengikuti arahan petugas kesehatan.

Pembagian masker oleh mahasiswa diharapkan dapat menjadi langkah sederhana yang bermanfaat bagi warga. Namun, perlindungan kesehatan tetap perlu disertai upaya mengurangi paparan asap dan mencegah terjadinya kebakaran baru.

Mengapa kebakaran hutan dan lahan terus terjadi di Indonesia?

Kebakaran hutan dan lahan masih menjadi persoalan lingkungan yang berulang di Indonesia, terutama ketika memasuki musim kemarau. Berdasarkan penjelasan Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi cuaca kering dan aktivitas manusia merupakan faktor penting yang meningkatkan risiko karhutla.

Ada beberapa faktor yang perlu dipahami masyarakat.

Pertama, pembukaan lahan dengan cara membakar. Sebagian orang masih menggunakan api untuk membersihkan lahan pertanian atau perkebunan karena dianggap lebih mudah dan murah. Namun, jika api tidak terkendali, kebakaran dapat meluas ke lahan di sekitarnya.

Kedua, kelalaian manusia. Api yang berasal dari pembakaran sampah, puntung rokok yang dibuang sembarangan, atau sumber api lain yang tidak dipadamkan dengan benar dapat memicu kebakaran, khususnya ketika vegetasi dalam kondisi kering.

Ketiga, musim kemarau dan kondisi cuaca kering. Ketika hujan berkurang, rumput, dedaunan, ranting, dan bahan organik lainnya menjadi lebih kering sehingga lebih mudah terbakar. Angin juga dapat mempercepat penyebaran api.

Keempat, fenomena El Niño. Fenomena iklim ini dapat menyebabkan kondisi yang lebih kering di sejumlah wilayah Indonesia. Pada 2026, BMKG mengingatkan bahwa pengaruh El Niño dan kondisi kemarau meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Meski demikian, El Niño bukan sumber api secara langsung. Aktivitas manusia tetap menjadi salah satu faktor utama yang memicu munculnya kebakaran. Sumber: BMKG

Karena itu, pencegahan karhutla tidak cukup hanya dilakukan dengan memadamkan api setelah kebakaran terjadi. Masyarakat, pemerintah, pelaku usaha, dan generasi muda perlu bersama-sama mencegah munculnya sumber api sejak awal.

Mahasiswa berperan dalam menjaga kesehatan dan lingkungan

Kegiatan pembagian masker gratis ini menunjukkan bahwa mahasiswa dapat berkontribusi langsung dalam menghadapi persoalan yang terjadi di tengah masyarakat. Peran mahasiswa tidak hanya terbatas pada kegiatan akademik di kampus, tetapi juga mencakup pengabdian kepada masyarakat dan edukasi lingkungan.

Melalui kegiatan sosial seperti ini, mahasiswa dapat mengajak masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta segera melaporkan jika menemukan titik api kepada petugas terkait.

Kepedulian tersebut juga menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Dampak karhutla tidak hanya dirasakan oleh masyarakat yang tinggal dekat lokasi kebakaran, tetapi juga dapat meluas ke wilayah lain melalui pergerakan asap.

Pada akhirnya, pembagian masker gratis di Dharmasraya menjadi contoh bahwa aksi sederhana dapat membawa manfaat dan menumbuhkan kepedulian bersama. Mahasiswa hadir bukan hanya untuk membantu masyarakat menghadapi dampak kabut asap, tetapi juga untuk mendorong perubahan perilaku agar kebakaran hutan dan lahan dapat dicegah.

Sebab, lingkungan yang sehat bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab kita semua.

Read 29 times